KEGAGALAN HAQIQI

     Setiap kita pasti pernah dan mungkin akan di hadapkan pada kegagalan. Gagal benar-benar dikatakan gagal apabila kita benar-benar berhenti mencoba.Tetapi selama kita masih terus mencoba maka itu bukanlah kegagalan, tetapi proses berhasil. Ada tiga pola yang mengarahkan kita pada kegagalan yang sebenarnya.

    Yang pertama adalah mencari sumber kesalahan di luar diri. Alasan paling enak untuk excuse dari kegagalan adalah menyalahkan orang lain. Dengan demikian berarti kita merasa tidak bersalah, jika muncul perasaan tidak bersalah maka akan jauh diri ini dari keinginan untuk memperbaiki diri, jika diri nihil dari usaha memperbaiki diri maka jangan harap akan belajar dan menjadi pribadi lebih maju. 

   Yang kedua adalah rasa pesimis yang berlebihan. Sikap pesimisme yang di biarkan atau bahkan dipupuk akan menjadi pemicu bagi diri kita untuk terjerembab dalam kegagalan yang haqiqi. Tidak ada usaha untuk bangkit setiap gagal dalam satu fase percobaan hidup. Hal ini karena sudah terlanjur menaruh ukuran pendek bagi dirinya yang menyebabkan rendah diri dan merasa tidak mampu.

    Dan yang ketiga menjadikan takdir Tuhan sebagai kambing hitam. Setiap gagal selalu memunculkan justifikasi bahwa ini tidak terjadi karena sudah di takdirkan oleh Tuhan. Lupa bahwa Tuhan membekali manusia dengan akal sehingga bisa digunakan untuk berfikir koreksi dan introspeksi. Tuhan tidak pernah membatasi manusia dan memberikan patok batas usaha. Semakin gigih dan istiqomah manusia berusaha, maka Tuhan pun akan memberikan jalan dan mendorong semesta untuk menjadi pendukung.

    Maka, kegagalan tidak pernah akan hadir selama kita bangkit dan mencoba kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANDAI BERBELANJA LEBIH PENTING DARIPADA PANDAI MENABUNG